Buruh Pabrik

9:00 PM

Aku mungkin hanya satu dari ribuan orang buruh perempuan di pabrik ini. Tapi mungkin aku satu-satunya yang bernasib sial. Setidaknya itu menurutku. Bekerja 11 jam dalam sehari di sebuah ruang luas berisikan ribuan perempuan lain yang bahkan mungkin kurang dari sepersepuluhnya yang aku tahu namanya. Semua berpakaian serba putih yang mulai pudar, penutup kepala berwarna putih, dan sepatu boot berwarna putih pula.

Kadang ketika aku bekerja di pagi hari, pulang di petang hari tak merasakan hangatnya sinar mentari. Kadang aku harus bekerja petang hingga subuh, tak merasakan dinginnya malam, tak menyaksikan langit berbintang, tak memeluk gadis kecilku di rumah.

Selain sebelas jam di ruangan pabrik yang menjadi nafkah bagi ribuan orang itu, aku harus merawat anak-anakku. Memasak, membersihkan rumah, pergi ke pasar, mencuci baju, mengantar mereka ke sekolah, seperti seorang ibu dan istri pada umumnya.

Suamiku? Suamiku tidak pernah ada di rumah. Dia hanya ada di rumah untuk berteriak, makan, dan tidur di ruang depan sambil menyaksikan pertandingan tinju atau acara memancing. Sisanya? Entahlah. Bahkan selain mengambil uang yang sering aku sembunyikan di tumpukan lemari baju anak-anakku, aku tak tahu lagi di mana dia mendapatkan uang.

Menjadi buruh perempuan bukanlah perkara mudah. Kadang di hari Minggu pun aku dipaksa untuk tetap bekerja. Bukan karena perusahaan memaksaku, tetapi karena kebutuhan anak-anakku yang harus dipenuhi. Kebutuhanku dan suamiku pun menjadi tanggunganku. Terkadang aku ingin membawa anak-anakku lari saja, tetapi kemana? Aku bahkan sudah tak punya sanak famili selain di kota kecil ini. Sedangkan bagi kota kecil ini, menjanda dengan alasan apapun tidak membuat hidup menjadi lebih mudah.

Terkadang aku harus meninggalkan pekerjaanku, dihari-hari seperti ini. Ketika si kecil sedang demam tinggi dan aku harus bekerja di shift malam. Dia butuh aku, untuk memeluknya hingga tertidur, untuk membawanya ke mantri terdekat, untuk mengganti kompresnya. Hal-hal seperti ini yang membuatku lebih ingin menjadi ibu seutuhnya dibandingkan bekerja bersama ribuan perempuan lain yang mungkin punya kecemasan yang sama terhadap keluarga kecilnya di rumah. Sedangkan lagi-lagi suamiku terlelap setelah kalah judi, sambil ditonton oleh layar televisi.

Aku bukannya tak ingin lari. Tetapi menjadi perempuan, menjadi istri, menjadi ibu bukanlah perkara untuk diriku sendiri. Tapi untuk anak-anakku, untuk suamiku, dan untuk keluarga kecilku. Maka aku pun menjadi kuat bukan untuk diriku sendiri, tetapi untuk keluarga yang mulai merapuh ini.

---
Tulisan ini masih raw sekali, karena ditulis tanpa arah yang jelas dan penulisnya juga lagi nggak jelas mood-nya. Dalam rangka collecting ide cerita dari apa yang sering saya lihat dari lingkungan di sekitar. No offense kepada para Bapak. Banyak Bapak yang super kok sebenarnya out there, termasuk Bapak saya ❤♥.

You Might Also Like

0 comment(s)

Silahkan komen :)