Skip to main content

Posts

Showing posts with the label #30HariMenulisSuratCinta

#11 Jogja Nol Kilometer

Yogyakarta, 24 Januari 2012 Dari G kepada D. Masih ingatkah kamu salah satu tempat di kota kita itu? Tiga atau empat tahun lalu di sebuah Sabtu malam, kita bergandengan tangan menyusuri sepanjang jalan Malioboro. Masih bicara tentang kita. Lalu berhenti di titik nol kilometer. Duduk di salah satu bangku di sana, lalu masih saling bicara tentang kita. Aku juga masih ingat kamu menggendongku menyeberangi perempatan jalan yang ramai itu. Dan sekarang siang tadi, aku melewati ruas Jalan Malioboro itu sendirian. Seperti membuka kotak kenangan lama. Ternyata kebersamaanku denganmu di kota ini selama hampir 3 tahun itu telah berakhir. Kini aku dan kamu sama-sama telah meninggalkan kota ini menempuh jalan masing-masing. Apa kabar kamu? Masih sebaik kota ini kah? F. Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

#10 untitled

Yogyakarta, 23 Januari 2012 Halo, apa kabar? Bagaimana keadaan di sana? Ini sudah bulan kedelapan kamu menetap di sana. Semoga kamu bahagia. Di sini semua baik-baik saja kok. Meskipun ada yang rasanya kurang setiap aku pulang ke rumah ini. Rumah ini terasa sepi. Banyak hal yang rasanya janggal ketika aku di rumah ini. Mungkin aku belum terbiasa. Aku cuma mau mengirimkan surat singkat ini, bukti bahwa aku masih ingat padamu. Bahwa kamu masih ada di hati kami. Baik-baik di sana ya.. Maaf, aku lama tak mengunjungimu di rumah barumu. Tapi tenang, aku tak pernah berhenti berdoa untukmu :) Love, Cucumu F.

#6 belasan tahun lalu

Yogyakarta, 19 Januari 2012 Untuk masa kanak-kanakku.. Sudah lewat dari belasan tahun dan tak banyak yang bisa aku ingat. Tapi entah kenapa aku selalu merindukannya. Lebih dari apapun di dunia ini, tentu saja syarat dan ketentuan berlaku hihihi Kartun di televisi setiap Minggu pagi, menginjak kaki penumpang lain ketika masuk ke angkutan umum, dagu bocor karena berlarian di jalan berbatu, mem-bully sesama teman di sekolah, merecoki guru yang sedang mengajar di kelas, ratusan biji lego berbagai bentuk, kumpulan kartu dari Canasta, ratusan tazoos dari Chiki. Ah aku merindukan mereka semua. Merindukan senyum yang tak pernah lepas dari wajahku saat itu. Aku merindukan saat dimana menjadi bahagia itu terasa mudah. Tuhan, mungkin jika hidup memiliki tombol backward aku akan memutar hidupku ke saat-saat itu :) F. Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

#5 LIMA

Kotaku, 18 Januari 2012 Sebelum menuliskan tanggal itu aku belum memutuskan untuk siapa surat ini ditulis. Tapi begitu mengingat tanggalnya, aku langsung mengingat kamu. Bukan maksud mau ngitungin, tapi emang dasarnya pasti keinget. Kamu ingat nggak tanggal berapa ini? :) Apa kabar kamu di sana? Baik kan, Sayang? Aku tahu kamu sebal aku panggil sayang terlalu sering. Tapi sekali ini nggak apa kan? Semoga kamu selalu baik-baik saja ya di sana. Liburan ini kamu ngapain aja? Paling-paling tidur seharian ya? Hahaha. Hari ini aku masih menemani temanku-yang-satu-itu berjalan-jalan keliling kotaku. Kapan kamu datang ke sini? Tiba-tiba aku ingin mengajakmu juga berkeliling di sini, mengenalkanmu pada kotaku. Kapan-kapan ke sini ya, Sayang. Di surat ini, aku mau bilang makasih. Makasih aja. Buat ini, itu, buat semuanya. Thank you for everything pokoknya. Nggak usah banyak tanya apa maksudnya. Aku sebal kalau kamu banyak tanya tentang hal-hal seperti ini. Tahu kan sifatku yang satu itu? :p Hmm,...

#4 Buat Tomat

Madiun, 17 Januari 2012 Halo, @hurufkecil. Semoga kamu tidak keberatan menerima surat dariku. Aku memilih selebtwit secara random nih. Oh iya, kamu selebtwit bukan? Pak pos, tomat selebtwit kan? Anggap saja iya ya? Hmm, apa ya? Aku cerita kenapa aku follow kamu saja ya? Aku menemukan blogmu terlebih dahulu sebelum akhirnya menemukan kicauanmu. Blogmu super sekali. Tulisan kamu singkat dan asyik dibaca. Jujur, sebenarnya aku dahulu nyaris meng-unfollow kamu. Kenapa? Aku tidak suka dengan caramu menuliskan RT dengan huruf kecil seperti ini: rt. Semacam menyebalkan karena mengingatkanku pada cara menulis perempuan yang telah merebut hati laki-lakiku dulu. (Doh! Malah curhat) Tapi entah kenapa aku tidak pernah sampai hati menge-klik tulisan unfollow itu. Dan makin lama aku makin jatuh cinta dengan kata-katamu. Catat, dengan kata-kata ya bukan dengan orangnya. Bahwa semua yang kamu tuliskan dengan huruf kecil itu kadang bisa menohokku. Ah pokoknya sering-sering berkicau ya, tomat. Aku sudah...

#3 Siapa Namamu?

Surabaya, 16 Januari 2012 Hey, kamu laki-laki asing. Tahu kenapa aku menulis surat untukmu? Tiba-tiba aku ingat, di awal tahun yang lalu kita bertemu dan aku mempunyai janji padamu yang belum aku tepati. Senja yang indah itu tiba-tiba semesta mempertemukan kita. Kamu mulai membuka mulut untuk bicara setelah melihat sebuah kamera yang menyembul keluar dari tasku. Kita larut dalam pembicaraan yang seru sekali di salah satu sudut restoran cepat saji itu kemudian. Tanpa menyadari bahwa kita baru saja bertemu untuk pertama kalinya. Tanpa meyadari bahwa kita tidak saling mengenal. Sayang obrolan kita waktu itu terputus karena ada telepon yang masuk di ponselku, memaksaku untuk pergi. Akhirnya aku harus pamit pergi padamu. Aku sudah berada sepuluh langkah lebih darimu sampai pada akhirnya kamu mengejarku dan mengajakku berkenalan. Aku hanya tersenyum dan bilang, “Kenalannya kapan-kapan aja kalau ketemu lagi,” kemudian aku berlalu. Setelah hari itu tanpa disangka beberapa hari kemudian kita be...

#2 Surat Permohonan Maaf

Surabaya, 15 Januari 2012 Halo, MD. Apa kabar kamu Mas? Sudah lama sekali kita tidak pernah bertemu. Dua atau tiga tahun lebih sepertinya sejak kita ketemu terakhir. Kamu masih ingat aku? Sepertinya tidak. Dan semoga saja tidak. Dengan tidak mengingatku maka kamu berarti juga sudah melupakan kesalahanku. Melupakan cekcok kita waktu itu. Lagian waktu itu pertemanan kita terlalu singkat, hanya hitungan bulan. Entah kenapa hari ini aku tiba-tiba saja ingin menulis surat untukmu. Mungkin karena perkataan seseorang padaku juga, bahwa masalah itu untuk diselesaikan. Orang itu juga selalu mendesakku untuk tidak lari dari masalah–segera menyelesaikannya. Kadang menyebalkan sih, tapi aku tahu dia benar. Eh, kok aku malah jadi curhat ya? Hmm.. Jadi pada intinya hari ini aku menguatkan diri untuk menulis surat ini untukmu. Berharap sedikit kamu membacanya, tapi berharap lebih banyak kamu tidak membacanya. Nggak seharusnya ya mungkin dulu aku marah ke kamu. Toh waktu itu juga bukan kesalahanmu, bu...

#1 Kepada Hujan

Surabaya, 14 Januari 2012 Halo, Hujan.. Akhir-akhir ini aku tahu kamu sering menyapaku, menemani disetiap kegundahanku. Lewat suaramu yang merdu, lewat wangimu yang harum, lewat warna langitmu yang kelabu—warna favoritku! Aku tahu kadang rindumu pada bumi tak terbendung. Aku tahu kamu juga salah satu teman terbaikku. Aku tahu bahwa Desember dan Januari adalah waktu-waktu dimana kamu akan selalu ada untukku, banyak meluangkan waktu untukku. Tapi terkadang, kamu datang di saat tak tepat. Dan terkadang kamu datang dengan terlalu bersemangat. Terkadang kamu menghanyutkan, terkadang kamu menyakiti, dan terkadang.. ugh, kamu menggagalkan rencanaku. Meskipun begitu aku tetap menyayangimu, memujamu dan mensyukuri perhatian lewat tetes-tetes yang kamu turunkan. Tapi bisakah kita lebih kooperatif lagi? Bolehkah aku minta satu hal? Jadilah hujan yang manis, dengan begitu kita akan tetap dan selalu bersahabat.. ;) Peluk cium, Sahabat yang selalu mengagumimu.