Skip to main content

Kangen

Hari ini aku tiba-tiba merasa kesepian, aku mengendarai mobilku keliling ke setiap sudut kota yang pernah kita lewati bersama. Dan.. Entah kenapa sesuatu membawaku kembali ke tempat ini. Tempat dimana kita pertama kali bertemu lalu menjadi begitu dekat, sebuah coffee shop dua puluh empat jam di sudut kota ini. Aku pun duduk di meja yang biasa kita tempati. Meja di sudut lantai dua yang terbuka, dimana kita dapat melihat jalanan dari atas.



Seperti biasa aku hanya memesan segelas cokelat panas. Aku menangkupkan kedua tanganku di sisi-sisi cangkir itu. Membiarkan panasnya menyerap di tanganku. Waktu menunjukkan hampir pukul 9 malam, pantas jalanan mulai lengang, toko-toko mulai sepi dan pelayan-pelayan toko mulai tampak sibuk mematikan lampu dan menutup toko mereka.

Dahulu, di saat-saat seperti ini ketika kamu ada di hadapanku, kita akan membahas hal-hal tak penting dari orang-orang yang lewat di jalanan. Akan banyak sekali komentar-komentar usil nyeplos dari mulut kita. Lalu kita akan asyik tertawa dan berbincang keras-keras tanpa peduli dengan orang-orang di sekitar kita. Yang kadang kesal, atau mungkin mereka iri? Entahlah. Yang jelas kita seringkali menghabiskan malam di sini hanya untuk mengobrol; tentangmu, tentangku, tentang kehidupan kita masing-masing, tentang orang-orang yang nggak kita kenal. Meski tak jarang kita berdua terpaksa saling berhadapan namun sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Sudah berapa lama kita tidak pergi ke tempat ini? Sudah berapa lama kita tidak pergi bersama? Sudah berapa lama kita tidak berjumpa?

Kadang aku benci kenyataan bahwa jarak geografis yang terbentang di antara kita begitu jauh. Bahkan aku membenci keputusanmu untuk pergi dari kota kecil ini. Dan aku lebih benci lagi mengingat kenyataan bahwa aku di sini memikirkan kamu sedangkan mungkin di sana kamu sedang bersama teman-teman barumu, atau mungkin di sana kamu sudah menemukan tong sampah barumu? Aku nggak tau.

Kota ini tanpamu mungkin tak berubah, tapi hari-hariku tanpa kehadiranmu benar-benar sepi.

Comments

Popular posts from this blog

Psikologi Humanistik : Sejarah dan Kedudukan

PENDEKATAN HUMANISTIK Oleh: Farida A. R. (1101911019) | Tasya A. (110911040) | Riris M. S. (110911054) Nadya A. (111011083) | Oktovoni S. (111011124) | Agustin N. (111011158) Kedudukan dan Kritik Psikologi Humanistik Atas Pendekatan yang Ada dalam Psikologi Psikologi humanistik menekanan pada pengalaman kesadaran. Artinya keseluruhan kondisi alami dan perilaku manusia fokus pada: ”free will” , spontanitas, dan kekuatan kreatif manusia. Mereka menentang psikoanalis yang menyatakan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh dorongan biologis, pengalaman masa lalu, dan diatur oleh kekuatan ketidaksadaran. Bagi para penganut aliran humanistik, kesadaran adalah sesuatu yang spontan, bebas, dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, kini dan masa depan. Kritik juga ditujukan pada kaum behavoristik yang menganggap manusia seperti hewan yang fungsinya ditentukan oleh respon terhadap lingkungan. Psikologi humanistik juga mengkritik ilmu psikologi yang pembahasannya terlalu berfokus pa...

Hilang

Setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan. Salah satu kesalahan besar yang pernah aku buat adalah melepaskanmu. Membiarkan separuh dari diriku ikut bersama kamu. Kini aku tinggallah serpihan-serpihan yang tak tahu arah. Kemudiku hilang tersapu bersamaan dengan hilangnya bayanganmu. Aku hilang. Terbanggi Besar, (lupa kapan nulisnya) F.

Taare Zameen Par

Yak seperti janji aku dalam post sebelum ini, aku sekarang mau cerita soal salah satu film India yang baru aja kemarin aku tonton. Berawal dari beberapa bulan yang lalu ada temanku yang ngomongin di linimasa Twitter soal film India bagus banget tentang anak disleksia, aku jadi penasaran sama film ini. Fyi, aku emang tertarik banget sama disleksia. Dan akhirnya beberapa waktu yang lalu aku dapat film ini dari salah satu teman kampusku yang namanya Istina. Kemarin aku nonton film ini sama adek. Nganggur banget dan bingung mau ngapain akhirnya aku ngajakin adek nonton film ini. Mau ngajakin nonton film lain tapi takutnya ada adegan aneh-aneh hahaha :)) Film ini bercerita tentang seorang anak yang bernama Ishaan, seorang anak kecil berumur 8-9 tahun yang mengalami kesulitan belajar. Orangtuanya yang berharap Ishaan dapat secemerlang kakaknya mulai jengah dengan kelakuan Ishaan yang dinilai bandel, malas dan tidak disiplin namun sangat suka melukis. Ishaan pun dikirim ke sekolah asrama ...