Skip to main content

Posts

Resilient.

Sudah lebih dari sebulan sejak terakhir posting dan menyentuh dashboard blogger. Bahkan secara nggak sengaja sudah ke Makassar (lagi). Akhir-akhir ini terlalu banyak hal yang tampak ajaib. Melihat orang-orang mulai berubah sedangkan aku masih di tempat yang sama. Ada mereka yang tak lagi percaya dengan apa yang sebelumnya mereka pegang teguh. Ada mereka yang mulai menghancurkan idealismenya. Ada mereka yang datang lalu kemudian pergi begitu saja. Ada mereka yang tetap tinggal. Tetapi hanya satu yang selalu tinggal, kenangan akan mereka. Mungkin hidup telah mengubah orang-orang menjadi berbeda. Pun aku. Surabaya, 12 April 2014

Apa yang tampak dan terbaca

Halo! Kebetulan habis download aplikasi blogger di android. Nyobain sekalian posting deh :D 31 Januari, 2014. Hampir nggak kerasa bulan pertama tahun ini udah mau habis. Apa saja yang sudah kalian lakukan? Kejadian apa yang menarik di awal tahun ini? Sebulan ini berita di media dipenuhi dengan berbagai bencana. Dari mulai banjir, lalu Gunung Sinabung yang masih saja mengeluarkan awan panas, lalu beberapa daerah yang mengalami longsor. Semoga semua bencana itu semakin berkurang dan orang-orang yang diberi cobaan punya stok kesabaran ekstra :) Bumi mungkin memang sedang sakit, nggak cuma di Indonesia yang dilanda bencana. Beberapa bagian negara yang lain juga mengalami bencana, seperti cuaca buruk dan suhu ekstrim. Mungkin bumi sama seperti manusia. Ketika kita diisi dengan hal-hal yang positif maka yang tercemin pula perilaku yang positif, pola hidup yang positif pula. Kalau kita makan makanan sehat, maka kita akan sehat. Sebaliknya bila kita diisi oleh hal negatif, maka negativitas...

31 Desember 2013

Tahun 2013 mungkin bukan tahun yang baik, tetapi banyak pelajaran, pengalaman, dan kesempatan yang tak terduga. Lagi, semuanya seimbang. Ketika hal buruk datang, maka pertanda hal baik segera datang, pun sebaliknya. Tahun ini merasakan apa yang namanya betrayal . Yup, aku lebih senang menyebutnya begitu, dalam bahasa Indonesia rasanya agak sedikit kasar makanya. Tetapi akhirnya aku menemukan kembali orang-orang yang aku sebut sahabat. Tiga orang yang aku kenal sejak pertama kali diterima di kampus. Sempat merasakan kesepian, tetapi di sisi lain aku sadar bahwa masih ada orang-orang yang peduli. Misal, yang bersedia bawain es batu waktu matamu lagi bengkak kelamaan nangis, atau yang dengan random  mengajak keluar kota ketika bosan dengan rutinitas. Merasakan juga apa yang namanya kecewa, tetapi kecewa itu malah menjadi bahan refleksi dan mengenal diri. Selain itu merasakan perbedaan antara orang yang benar-benar peduli dengan orang yang hanya ingin menjadi paparazzi . Kalau ...

Repost

Source: http://beradadisini.com/2013/11/24/and-so-you-did/

Sepi

Menyusuri jalanan kota, langkah demi langkah. Menatap silaunya lampu jalanan dan lampu gedung-gedung pemeriah. Beradu suara kendaraan yang melaju dengan klakson-klakson tak sabaran serta lampu dan suara tanda penyeberangan jalan yang menggema tapi teracuhkan. Dinginnya malam serasa tak biasa, mungkin karena masih hari pertama hujan turun. Atau mungkin karena aku seorang diri? Apalah artinya kota metropolitan tanpa kemegahan ini. Tanpa gedung-gedung pencakar langit, tanpa pusat perbelanjaan dan lampu jalanan yang menyilaukan, tanpa kedai kopi 24 jam di sudut-sudutnya, tanpa gerakan ritmis kendaraan-kendaraan yang sibuk. Seketika aku mengasihani diriku sendiri. Aku berandai kota ini mendadak sepi. Nyatanya aku yang terjebak sepi. F. 16 November 2013 | 01.05

Kata

Menyusuri lorong yang gelap dan sunyi. Kemudian tiba-tiba semua membias menjadi kenangan beberapa tahun silam. Lima. Mungkin enam tahun yang lalu. Ada satu orang yang tak pernah aku kenal dengan pasti. Satu orang yang benar-benar menamparku sekaligus menguatkanku dengan kata-katanya. Suatu sore yang gelap dan basah, kita berjalan menyusuri lorong-lorong sekolah yang asing bagiku. Sekali dua kali sapaan ditujukan untukmu. Sekali dua kali pula itu tatapan iri dan bertanya-tanya tampak dari raut wajah mereka. Hujan mereda kemudian, tetapi badai malah memayungi kita. Entah kenapa, aku memicu apa. Kamu pun mengeluarkan kata-kata yang membuat kita tak pernah bicara lagi. Hingga sekarang. Kamu egois sama dirimu sendiri, buat apa kamu merasa kalah terus? Kamu akan jadi perempuan yang hebat, perempuan yang kuat. Tapi kamu nggak boleh kaya sekarang. Aku tak pernah ingat dengan pasti apa yang kamu katakan waktu itu. Tetapi kurang lebih dan tak jauh-jauh dari kalimat itu. Dulu aku selalu b...

Jarak

Mungkin sejak awal ada yang rancu dari hubungan kita. Setidaknya dari definisiku. Kamu tidak pernah memaksaku untuk menerimamu. Tetapi dengan kamu yang tak peduli dengan hatiku yang puing-puingnya masih tercecer di sana sini, membuatku kabur. Membuatku merasa bisa membagi secuil puing yang tersisa untukmu. Namun, nyatanya kamu pun tidak mentah-mentah menerimaku seperti itu. Kamu menghilang. Kamu sibuk dengan dirimu sendiri. Kamu mendadak lenyap tanpa kabar. Hubungan kita senyap. Mungkin karena jarak. Jarak. Aku membenci jarak yang terbentang di antara kita. Jarak yang celah-celahnya diisi oleh insecurity , pertengkaran, rindu, dan juga perdebatan tak tahu kemana ujungnya. Jarak yang membuatku mencari-cari sosok yang lain. Jarak yang membuatku tak lagi merasa kamu milikku. Jarak yang menghalalkanku mencari-cari rasa aman pada yang lain. Jarak yang membuatku lupa bahwa ada kamu. Jarak yang kujadikan alibi sebagai penghalang di antara kita. Nyatanya, aku yang masih enggan me...