Sang Pencerah, Mengobati Kerinduan akan Kota Kelahiran :)

10:41 PM





Jogjakarta 1867 -1912:

Sepulang dari Mekah, Darwis muda (Ihsan Taroreh) mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan. Seorang pemuda usia 21 tahun yang gelisah atas pelaksanaan syariat Islam yang melenceng ke arah Bid’ah /sesat.

Melalui Langgar / Surau nya Ahmad Dahlan (Lukman Sardi) mengawali pergerakan dengan mengubah arah kiblat yang salah di Masjid Besar Kauman yang mengakibatkan kemarahan seorang kyai penjaga tradisi, Kyai Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo) sehingga surau Ahmad Dahlan dirobohkan karena dianggap mengajarkan aliran sesat. Ahmad Dahlan juga di tuduh sebagai kyai Kafir hanya karena membuka sekolah yang menempatkan muridnya duduk di kursi seperti sekolah modern Belanda.

Ahmad Dahlan juga dituduh sebagai kyai Kejawen hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan Jawa di Budi Utomo. Tapi tuduhan tersebut tidak membuat pemuda Kauman itu surut. Dengan ditemani isteri tercinta, Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) dan lima murid murid setianya : Sudja (Giring Nidji), Sangidu (Ricky Perdana), Fahrudin (Mario Irwinsyah), Hisyam (Dennis Adishwara) dan Dirjo (Abdurrahman Arif), Ahmad Dahlan membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman.

(for more information : www.sangpencerahthemovie.com)


Yak, akhrinya setelah berhari-hari gue pengen banget nonton ini film, akhirnya kesampaian juga. With my best friend, Citra :) Awalnya sih ini cuma spontanitas gue sama Citra aja, soalnya kami berdua penasaran banget sama film ini. Lagian setelah seharian full digempur sama kulaih yang superduper padat dan kesuntukan gue yang dimintain tanda tangan melulu sama MABA serta dosen yang rada menjengkelkan kami berdua merasa membutuhkan angin segar, dan untungnya Sang Pencerah nggak mengecewakan!

Film yang kurang lebih berdurasi dua jam kurang sedikit ini bener-bener bikin gue serasa balik ke jaman itu, dapet banget feel-nya. Ceritanya sih ga usah dikritik, dialognya sebenernya banyak yang rada aneh bahasanya, tapi masih tetep bisa dinikmati dan malah bikin ada unsur lucunya juga. Yang disayangkan itu sebenarnya masalah subtitle, buat gue yang orang Jawa jadi-jadian (alias Jawa ga ngerti Jawa) rada kesulitan dibeberapa kata. Tapi untung aja masih bisa gue atasi. Sama yang rada aneh lagi adalah itu awan pas adegan di daerah alkid itu beneran apa editan ya? Kok rasa-rasanya kalo editan, olah digitalnya rada kurang sip sih?

Sekian sekilas info dari saya, daripada gue yang cerita kayanya mendingan lo pada langsung ke bioskop dan tonton nih film sendiri deh! Selamat menonton! :D







You Might Also Like

0 comment(s)

Silahkan komen :)