Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2012

#9 Gelas Kertas

Hargamu adalah apa yang kamu minum.

Dalam gelas-gelas kertas, dengan nama-nama asing, dibeli dengan harga yang cukup mahal. Simbol sebuah kekinian yang menjamur. Disebut coffee shop, berjajar di pusat perbelanjaan. Menjadi pengobat haus bagi pengunjungnya. Menjadi tempat beradu bagi sosialita.

Green tea latte, Caramel Machiato, Peppermint Mocha, Eggnog Latte dan entah berderet nama-nama lain. Bagi yang tidak kenal, mereka adalah kerabat dekat dari Kopi, Teh dan Cokelat. Disajikan dalam gelas kertas bergambar dan bernama.

Sambil menenteng gelas kertas itu, silahkan keluar dari pusat perbelanjaan itu. Tataplah anak-anak kecil dengan muka lusuh yang membawa sebuah plastik berisi es teh. Duduk dipinggir jalan terpanggang matahari. Menjajakan koran, menengadahkan tangan, untuk segelas es teh yang berharga seperduapuluh dari gelas kertasmu.


P.S. : Maaf sekali postingan #7 dan #8 baru dikirim hari ini. Email lagi trouble kemarin. Enjoy! :)


Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphon…

#8 Peppermint Bubble Tea

Aku suka teh, aku suka kopi, aku suka cokelat. Aku suka meminum berbagai jenis dari ketiganya. Atau terkadang gabungan dari "keluarga" dua atau ketiganya sekaligus. Dan menurutku, setiap jenisnya memiliki cerita yang berbeda.

Mengungkapkan sesuatu bagi orang-orang seperti aku, yang tak jelas introvert atau extrovert-nya, sebagai sebuah ritual meminum Peppermint Bubble Tea yang dibeli dari salah satu gerai Bubble Tea yang bisa kita jumpai di mall-mall.

Mengapa?

Meminum Peppermint Bubble Tea, pada tegukan pertama akan ada rasa asing yang dirasakan oleh indra pengecap. Ada sedikit penolakan atau rasa yang lebih bisa aku definisikan sebagai rasa balsem. Belum, aku belum pernah menjilat balsem.

Seperti ketika aku memulai cerita sesuatu. Ada ragu, bercerita atau tidak, ada saat memilah-milah, mana yang harus diungkap mana yang tidak. Akan ada jeda cukup lama sebelum cerita itu berlanjut, dari tegukan pertama ke tegukan kedua, dari prolog ke chapter satu.

Setelah masa jeda itu. Aka…

#7 478

"And I'm gonna miss you like a child misses their blanket." (Big Girls Don't Cry - Fergie)
"Aku lebih suka panas kaya gini, daripada dingin." "Kalau panas terus nanti kamu makin gosong loh." "Biarin, gosong tapi kulitnya sehat kan nggak apa-apa. Bule aja pada pengen cokelat kulitnya. Sampai ada tuh yang namanya tanning." "Hahaha itu mah akal-akalan kamu aja. Bela diri kalau kamu item." "Ya biarin loh, emang aku item kok." "Hahahaha ngambek dia." "Enggak. Cuma menerima kenyataan." "Iya deh, ngalah." Kamu mengacak rambutku sekilas. Lalu kita berdua sama-sama terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. "Tapi aku lebih suka kalau dingin." "Kenapa?" "Soalnya kalau dingin aku bisa tidur pakai selimut. Kalau panas kan kepanasan, jadi malas pakai selimut." "Iya juga sih. Aku suka kalau siang panas, tapi malamnya nggak panas-panas banget. Soalnya aku juga suka t…

#6 Grayscale

"I want to fill this new frame but it's empty." (Empty - The Click Five)
05.45 Hujan yang turun sejak semalam masih menyisakan gerimis dan jendela kamar yang mengembun. Aku masih bersembunyi di balik selimut cokelatku. Mataku tak dapat terpejam sejak subuh tadi. Menatap kosong sambil mendengarkan jam yang terus berdetik samar, sesekali aku menatap lurus ke jendela yang dingin. Sedingin kata-kata perpisahanmu.
Matahari masih belum menyebarkan sinarnya, entah karena mendung atau karena ia masih enggan terbit seperti aku saat ini. Mungkin matahari masih bersembunyi di balik selimut abu-abunya, yang kita kenal sebagai mendung. Matahari mungkin sedang terlalu lelah. Matahari mungkin sedang malas. Matahari mungkin sedang tak ingin bekerja. Matahari mungkin sedang sedih. Baiklah. Bukan matahari yang sedang sedih. Bukan matahari yang sedang tak ingin bekerja. Bukan matahari yang sedang malas. Bukan matahari yang terlalu lelah. Tapi aku, iya AKU.
Aku berniat mematikan lampu tidurku y…

#5 Rumah

Kami mendapatkannya dari gundukan sampah di tempatku bekerja, surgaku. Dengan tekun kami mengumpulkannya ketika kami baru saja hijrah ke tempat itu. Ketika kami "resmi" bekerja di tempat itu.

Kami menyusunnya satu per satu dengan tekun. Menyulap lembaran-lembaran cokelat tebal itu menjadi tempat bernaung. Ada yang bekas televisi layar datar 42 inchi, ada yang bekas kulkas, ada yang bekas makanan. Kami kumpulkan yang masih layak.

Kami sengaja menyusunnya tepat di dekat tempat kami bekerja. Agar kami tak perlu repot-repot berjalan jauh untuk pergi bekerja. Maklum, kami tidak punya sepeda untuk pergi ke "kantor", apalagi motor atau mobil. Satu-satunya alat transportasi kami adalah sepasang kaki.

Di pagi hari, kami bangun ketika pagi masih muda. Membasuh muka di sumber air tedekat, kemudian bercengkerama dengan tetangga sejenak. Setelah matahari mulai menampakkan diri, kami pergi bekerja. Bermodal sebuah karung bekas dan sebatang besi yang ujungnya melengkung kami berangk…

#4 Mangkuk Favoritmu

"Jadi ini yaaa, es teler paling enak di seantero Jogja," katamu ketika kita baru sampai di tempat es teler favoritmu di kencan kelima kita.
"Halah. Sama saja mah ini sama yang lain, Mas," kataku sambil membenarkan posisi dudukku.
"Beda."
"Bedanya apa? Toh, isinya sama-sama buah. Harganya juga nggak jauh beda sama yang lain. Tempatnya pun mirip sama sebelah," kataku sambil melirik deretan penjual es teler di sekitarnya.
"Beda."
"Terus bedanya apa?" Aku mulai malas.
"Tunggu sampai pesanannya datang deh," jawabmu.

Tempat ini hanyalah warung tenda sederhana d itepi jalan, buka di siang hari saja. Tapi kamu bilang es teler di sini enak, lebih enak daripada yang biasa dijual di mall-mall yang kalau kita beli saja harus pakai PPN, begitu katamu. Sekitar sepuluh menit kemudian pesanan kita datang. Dua mangkuk es teler, tanpa nanas untukku.

"Makasih, Ren," katamu kepada anak umur belasan awal yang mengantarkan dua mangkuk …

#3 Sepasang Biru, Kanan dan Kiri

Sepasang biru, kanan dan kiri yang selalu setia menemaniku. Terpasang selalu di kedua kakiku. Meredam panasnya aspal jalanan ketika siang hari. Menahan tajamnya jalanan kota besar.



Sepasang lusuh, kanan dan kiri seharga tidak lebih dari sepuluh ribu. Ukurannya lebih besar dari kakiku. Salah satu benda mewah yang aku punya, selain beberapa baju yang tak kalah lusuh. Kutemukan di tempat sampah ketika masih memulung.



Sepasang setia, kanan dan kiri yang nyaman. Telah berulang kali putus dan disambung dengan rafia seadanya. Tebalnya kini tak sampai setengah sepasang yang lain yang biasa aku lihat di warung, pun warnanya telah berubah.



Dengan sandal jepit berwarna biru itu, aku siap menjaja koran di persimpangan jalan.





Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Menerima

Aku ingin lari, lari sampai aku capek. Lalu melupakan sejenak hal-hal yang menyesak. Mungkin itu hanya pikiran-pikiran yang akan menyatu menjadi dosa atau menjadi dementor yang menyedot kebahagiaanku sendiri.



Aku ingin menguap, menjadi awan yang kemudian turun lagi menjadi hujan, lalu menguap lagi menjadi awan dan seterusnya. Hidup dalam konstansi yang sudah terjamin. Dalam siklus yang teratur.



Aku ingin lupa, bahwa terkadang memory yang kita punya hanya akan membuat kita berpikir terlalu berlebih. Dan sesuatu yang berlebih itu tidak pernah baik, kata para bijak.



Pada akhirnya semuanya kembali ke diri kita, diriku sendiri. Membutuhkan hati yang luas untuk menampung semua keluh kesah. Membutuhkan hati yang luas untuk berada di tempatku berpijak sekarang, tanpa mengecilkan posisi orang lain. Di luar sana masih dan akan lebih banyak orang yang ada di posisi lebih sulit..



Dan pada akhirnya, menerima adalah opsi yang paling bijak. Setidaknya untuk saat ini.







Sent from my AXIS Worry Free BlackBer…

#2 Rak Buku

"Halo."

"Eh, iya. Halo. Ada apa ya? Ada barang yang ketinggalan di dalam?"

"Enggak. Cuma sengaja menunggu perpustakaan tutup. Mau ngopi sebentar di cafe ujung jalan?"



***

Kita bertemu di celah-celah kosong antara ratusan buku. Kita bertemu dalam lorong-lorong sempit puluhan rak buku raksasa yang terjajar rapi. Kita bertemu dalam susunan sistematis Dewey..



Kita bertemu dalam hening, larut dalam dunia abjad masing-masing. Kadang kita bertatapan sekejap, lalu kita kembali menekuni rak buku. Kadang kita bertemu dalam percakapan seadanya di depan loket peminjaman.



Kita bertemu tapi tak banyak berucap. Aku hanya tahu namamu dari keterangan di kartu anggotamu. Aku hanya tahu alamatmu juga dari kartu itu. Dan aku juga tahu buku jenis apa saja yang kamu pinjam, kali ini lewat percakapan seadanya peminjaman buku.



Kita bertemu di antara jajaran rak buku. Sekilas. Percakapan kita hanya berkisar, "dimana letak rak blablabla" atau "buku ini ada di sebelah mana?…

#1 Pintu

Menit kelima, begitu kata jam tanganku. Aku hanya bisa memandangi pintu di depanku ini. Tidak menyentuhnya, atau bahkan mengetuknya.
Menit kedelapan dan aku masih mematung memandangi pintu yang masih sama. Pintu yang masih sama, delapan tahun dan tidak berubah. Cokelat yang sama, bentuk yang sama, gagang pintu yang sama. Masih pantaskah aku mengetuknya?
Menit kesepuluh dan aku masih tetap belum beranjak. Pintu yang sama, di rumah yang sama. Rumah paling ujung dari jalanan ini, rumah dengan nomor 112. Tanganku mulai bergerak hendak mengetuk. Tapi sesuatu menahanku, gengsi.
Menit kelimabelas, kakiku mulai pegal berdiri tegang di depan sebuah pintu. Otakku mulai lelah memutar memory masa kecilku di dalam rumah itu. Apakah perabotnya masih sama? Apakah ruang-ruangnya masih sama? Apakah semuanya masih sama?
Menit keduapuluh, aku merindukan rumah ini. Keputusanku untuk lari dari rumah ini delapan tahun yang lalu mulai aku sesali. Seberapa jauh aku pergi, seberapa indah tempat yang kukunjung…

3 Perempuan 30 Hari 90 Cerita

Hmm, it's been a long time sejak terakhir kali aku rajin posting kayanya. Kangen gitu sebenarnya sama nge-blog. Tapi apa mau dikata, kuliah dengan tugas dan ujian yang heboh, magang dengan project yang nggak habis-habis, bikin kegiatan nge-blog sedikit tersingkirkan dari jadwal.



Nah, di bulan Ramadhan yang penuh barokah ini, aku dan kedua temanku @pupusupup dan @cumelo, akhirnya sepakat untuk mengakhiri masa hiatus dari blog lewat sebuah kegiatan #30hari90cerita. Jadi, mulai hari ini di #30hari90cerita kami bertiga akan menulis selama 30 hari, menulis dalam bentuk puisi, cerpen, prosa, surat atau apa saja dengan tema random yang telah disepakati, tema ini akan berbeda setiap harinya. Setiap hari kami akan menulis 1 cerita, sehingga selama 30 hari akan ada 30 cerita dari masing-masing kami dan total selama 30 hari akan ada 90 cerita.



Cerita kami, dapat dibaca di blog ini darkblueandgrey.blogspot.com untuk ceritaku, sepotongkeju.blogspot.com untuk cerita Pupus dan cumelo.blogspot.com

3 Perempuan 30 Hari 90 Cerita

Hmm, it's been a long time sejak terakhir kali aku rajin posting kayanya. Kangen gitu sebenarnya sama nge-blog. Tapi apa mau dikata, kuliah dengan tugas dan ujian yang heboh, magang dengan project yang nggak habis-habis, bikin kegiatan nge-blog sedikit tersingkirkan dari jadwal.

Nah, di bulan Ramadhan yang penuh barokah ini, aku dan kedua temanku @pupusupup dan @cumelo, akhirnya sepakat untuk mengakhiri masa hiatus dari blog lewat sebuah kegiatan #30hari90cerita. Jadi, mulai hari ini di #30hari90cerita kami bertiga akan menulis selama 30 hari, menulis dalam bentuk puisi, cerpen, prosa, surat atau apa saja dengan tema random yang telah disepakati, tema ini akan berbeda setiap harinya. Setiap hari kami akan menulis 1 cerita, sehingga selama 30 hari akan ada 30 cerita dari masing-masing kami dan total selama 30 hari akan ada 90 cerita.

Cerita kami, dapat dibaca di blog darkblueandgrey.blogspot.com untuk ceritaku, sepotongkeju.blogspot.com untuk cerita Pupus dan cumelo.blogspot.com

Juli ♥

Juli selalu membuat ceritanya sendiri. Dan sejak 2009-2011 Juli selalu membawa cerita yang kelabu, mendung, kemudian meneteskan hujan. Dan apa kabar Juli tahun ini?

Juli diawali dengan proyek kantor hari Minggu di Lamongan. Kemudian menghadapi hari sibuk selama 3 hari selanjutnya di depan komputer. Dan Kamis kembali ke Lamongan, mencoba peruntungan sedikit dengan sebuah hal baru, yang hasilnya sedikit acak-acakan.

Kemudian menuju Sabtu yang menyenangkan, nge-date, kencan, jalan-jalan atau entah apalah itu namanya sama R. Ke Purwodadi nyari tempat hijau sambil ngolokin orang yang pacaran di sana. Nggak ngaca kalau gue dateng juga sama pacar :))


Menuju ke Brawijaya, nongkrong di bundaran Yogi (?) depan rektoratnya sana sambil nungguin salah satu temen, makan bakso bakar lalu menuju ke alun-alun Batu beli susu melon. Jalan-jalan di alun-alun yang berujung dibujukin naik bianglala bertiga sama pacar dan si temen. Lalu pulang dan terjebak padatnya jalanan dan sama-sama ngantuk. Ah, simple …