Skip to main content

Posts

Hilang

Setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan. Salah satu kesalahan besar yang pernah aku buat adalah melepaskanmu. Membiarkan separuh dari diriku ikut bersama kamu. Kini aku tinggallah serpihan-serpihan yang tak tahu arah. Kemudiku hilang tersapu bersamaan dengan hilangnya bayanganmu. Aku hilang.


Terbanggi Besar, (lupa kapan nulisnya)

F.
Recent posts

Kepastian

Kepastian adalah konsep paling mengerikan yang pernah kamu tawarkan. Bagiku hal yang paling pasti di dunia ini hanyalah ketidakpastian. Jadi, ketika seseorang menawarkan kepastian kepadaku, sejatinya itu hanyalah sebuah ketidakpastian. Tak terkecuali kamu yang menawarkan. Seberapa jatuhnya aku kepadamu, aku masih lebih mencintai diriku sendiri. Aku lebih ingin melindungi diriku sendiri.


Entahlah. Aku selalu dianggap aneh, dianggap pengecut, dianggap "sakit". Iya, aku memang terlalu takut untuk jatuh kembali, terseok untuk bangkit dan berdiri kembali, lalu menata kepingan-kepingan yang berserakan, lalu kembali ke lubang yang sama. Aku lelah dengan ketidakpastian yang selalu menghantui di balik kepastian yang ditawarkan.


Satu yang aku tahu, semuanya selalu akan baik-baik saja selama kita masih bisa mengamit lengan satu sama lain. Selama kita masih bisa menghabiskan malam tanpa kehabisan kata-kata. Selama kita masih bisa menertawakan hal yang sama. Selama itu bersama kamu, kecema…

It's Not Easy

Mimpi

Kamu meninggalkanku bersama mimpi-mimpi yang kita bangun bersama. Mungkin kamu telah lupa, mungkin kamu telah punya mimpi-mimpi baru. Mungkin juga kamu telah mencapai mimpi-mimpi kita, tetapi bukan bersamaku. Aku tidak pernah menyalahkan kepergianmu. Toh, dengan kepergianmu aku menyadari satu hal, bahwa mimpi adalah hal yang begitu hebat. Bahkan mimpi-mimpi yang kita bangun bersama (dulu) itulah yang menghidupiku.
Mungkin salahku, atau mungkin tidak ada yang bisa disalahkan dari keadaan yang kita lalui dulu. Hanya saja waktu itu kita dihadapkan pada sebuah cabang jalan di mana aku dan kamu memilih jalan yang berbeda. Sulit pada awalnya menyusuri jalanan sendirian. Aku sempat terjatuh, terjerembab dan rasanya ingin selalu berbalik arah kepada kamu. Sampai pada satu titik aku sadar, bahwa aku harus memaksa diriku pada satu batas tertentu agar aku tidak lagi menengok ke belakang, meratapi nasib, atau mengharapkan kamu kembali.
Jika biasanya aku selalu berjudi dengan segala kemungkinan b…

Day 3: Kain

Pagi itu Nadia dibangunkan oleh suara batuk nenek yang tak kunjung berhenti. Sudah lebih dari satu minggu beliau tidak pernah berhenti terbatuk-batuk. Tidurnya pasti tidak nyenyak. Matahari belum menunjukkan rupanya, tapi Nadia sudah harus segera bersiap untuk berangkat. Setelah menunaikan kewajiban paginya, Nadia pun mengambil perlengkapan, mengenakan sandal jepit tua yang Nadia temukan ketika bekerja kemarin. Nadia berpamitan pada nenek, mencium tangannya yang sudah menua. Tangannya lemah dan dingin. “Nenek pasti kedinginan setelah mengambil air wudhu tadi”, batinnya.

Sejak kecil Nadia diasuh oleh nenek. Tujuh tahun yang lalu sewaktu ibunya hamil besar, ayahnya merantau ke Jakarta berharap nasib mereka membaik. Dua tahun kemudian setelah tidak pernah ada kabar dari Ayahnya, Ibunya menyusul Ayah ke Jakarta. Ibunya pun ikut hilang ditelan bumi. Tinggalah Nadia dan nenek. Sejak nenek sakit-sakitan tahun lalu, Nadia tidak tahan lagi. Semakin hari batuk nenek tidak kunjung sembuh. Ru…

Day 2: Alien

Aku berusaha membuka mataku perlahan. Mataku terasa berat, seperti sebongkah batu bergantungan di kedua kelopak mataku. Silau. Itu kesan pertama yang aku rasakan ketika mataku berhasil terbuka sedikit demi sedikit. Aku mengerjapkan mata dengan lemah. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Hingga pandanganku tidak lagi kabur. "Di mana aku?" Itu pertanyaan pertama yang terlintas setelah aku tidak mampu mendefinisikan sekelilingku. Aku terbaring di sebuah ranjang di tengah ruangan serba putih. Ketiga temboknya berwarna putih. Satu tembok tampaknya sebuah kaca besar yang gelap. Di sebelah kaca besar itu terdapat sebuah pintu berwarna putih. Aku berusaha mengingat mengapa aku bisa terdampar di ruangan ini.
Aku perlahan bangkit dari tempat tidurku. Rasa nyeri menyergap tangan kananku ketika aku menggunakannya untuk menopang badanku. Ada beberapa lebam dan goresan rupanya di tubuhku. Mengapa aku bisa sampai di sini?
Aku sedang berada di ruangan kerjaku. Penelitian-penelitian. Crop circle. U…