Hilang

Setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan. Salah satu kesalahan besar yang pernah aku buat adalah melepaskanmu. Membiarkan separuh dari diriku ikut bersama kamu. Kini aku tinggallah serpihan-serpihan yang tak tahu arah. Kemudiku hilang tersapu bersamaan dengan hilangnya bayanganmu. Aku hilang.

Terbanggi Besar, (lupa kapan nulisnya)
F.

Hello, 2016!



Maybe it’s too late, but yeah here I am welcoming the New Year, the 2016. Lately I’m kinda busy figuring out myself, my life, my purpose in life, my future, my destiny. Just keep thinking about what I want, what I need, and which one I should take. I haven’t posts anything for couple months. Plus, since I’m living in a remote area, there’re some problems in my internet connection. Thank God, sekarang sudah diperbaiki sama orang IT, we’ll see apakah akan bertahan lama atau tiba-tiba mbrebet lagi?

Posting ini sebenarnya tujuannya, entahlah. Saya cuma ingin menuliskan apa yang ada di pikiran saya. Ingin review sedikit soal tahun 2015 dan ingin berangan-angan tentang 2016. So, here is my story begin.

Last year I got accepted in an Agriculture and Food Industry Company that brought me here, in Lampung Tengah (where you can easily find “begal”). I have never imagined that I would live in such remote area. I have to take a couple hours driving just to get well-brewed coffee, nice and comfort food, also great toiletries and skin care products. Every day is like a battlefield. I’m no kidding. This is the place where “begal” is a common job. Untungnya sih saya tinggalnya di company area, jadi tidak terlalu masalah. Cuma ya itu, keluar di atas Maghrib saja sudah was-was.

Moreover, we have a bright hot sun all year long, so I got a well-tanned skin (ngomong aja sekarang jadi gosong). Yeah, kadang-kadang kalau lagi terik sekali, real feel suhu di sini bisa sampai 42 derajat. Oke, latihan buat nanti kalau ke padang pasir tandus atau kalau nanti ke Makkah (Aamiin). Kembali ke topik, rasanya tahun 2015 berjalan dengan begitu cepat, sampai kalau disuruh mengingat apa saja yang terjadi rasanya kok pusing sendiri ya hehe. Tapi apapun itulah, yang jelas di tahun 2015 saya belajar banyak hal. Saya dapat ganjaran sendiri dari keputusan yang saya ambil. Apapun yang terjadi segalanya perlu kita syukuri bukan? Tuhan sudah memberikan jalan kepada masing-masing hambanya. Selama kita berikhtiar dan berdoa, insya Allah semuanya akan baik-baik saja :)

Lalu apa harapan saya di 2016? Hmm, maybe this year will be a little bit harder. I have to make one or two big decision(s) in my life. Firstly, I have to finish my final project for Management Trainee Program. Selain itu saya juga harus belajar banyak hal untuk project pribadi saya. Yah, intinya semoga tahun ini diberi kelancaran dan keteguhan hati untuk menjalani apa-apa saja yang sudah direncanakan. Karena masih rencana, maka belum ingin di publish dulu.

Kepastian



Kepastian adalah konsep paling mengerikan yang pernah kamu tawarkan. Bagiku hal yang paling pasti di dunia ini hanyalah ketidakpastian. Jadi, ketika seseorang menawarkan kepastian kepadaku, sejatinya itu hanyalah sebuah ketidakpastian. Tak terkecuali kamu yang menawarkan. Seberapa jatuhnya aku kepadamu, aku masih lebih mencintai diriku sendiri. Aku lebih ingin melindungi diriku sendiri.

Entahlah. Aku selalu dianggap aneh, dianggap pengecut, dianggap "sakit". Iya, aku memang terlalu takut untuk jatuh kembali, terseok untuk bangkit dan berdiri kembali, lalu menata kepingan-kepingan yang berserakan, lalu kembali ke lubang yang sama. Aku lelah dengan ketidakpastian yang selalu menghantui di balik kepastian yang ditawarkan.

Satu yang aku tahu, semuanya selalu akan baik-baik saja selama kita masih bisa mengamit lengan satu sama lain. Selama kita masih bisa menghabiskan malam tanpa kehabisan kata-kata. Selama kita masih bisa menertawakan hal yang sama. Selama itu bersama kamu, kecemasanku akan masa depan, akan ketidakpastian, sudahlah sirna.

Tetapi ketika kita berbicara tentang kepastian, kita selalu bak dua orang asing yang terbatasi dinding transparan. Mungkin kepastian bukanlah hal yang kita butuhkan. Satu sama lainlah yang mencukupkan.


Terbanggi Besar, 7 Oktober 2015


Kritik untuk Ruang Publik

Salah satu ruang publik di Surabaya yang jadi favorit saya adalah TAMAN! Iya taman. Memangnya ada taman di Surabaya? Banyaaak. Salah satu hal yang membuat saya mencintai kota Surabaya adalah tata kotanya yang cukup bagus dan begitu banyaknya taman di sana. Dari sekian banyak taman di Surabaya, beberapa ada yang punya nama-nama unik, seperti Taman Bungkul, Taman Lansia, Taman Pelangi, Taman Korea, daaan masih banyak lagi.

Taman Pelangi atau Taman Dolog (source: here)

Taman Bungkul (source: here)


Mau nongkrong malam minggu dan bertemu banyak komunitas? Coba ke Taman Bungkul atau Taman pelangi. Mau olahraga pagi, bercengkerama bersama keluarga, atau sekedar mengamati pasangan-pasangan lanjut usia jalan sehat? Coba ke Taman Lansia. Mau duduk manis sambil makan rujak? Coba ke Taman Korea. Mau melihat anak-anak kecil mainan air di air mancur atau ikutan main air sekalian? Coba ke Taman Balaikota :p

Taman Korea (source: here)

Yes! Sebegitu banyak dan cantiknya taman yang ada di Kota Surabaya, salah satu orang yang berjasa besar adalah Ibu Risma. Beliau banyak mengalihfungsikan lahan-lahan tidak terawat menjadi taman-taman yang cantik. Tidak heran tahun lalu beliau sempat marah-marah ketika salah satu taman kota dirusak oleh massa event salah satu produsen makanan. Salut untuk Bu Risma yang menyediakan begitu banyak ruang publik bagi warganya. Ups! Ini bukan kampanye politik lho yaaa..

Taman Lansia (source: here)

Taman Lansia dan Taman Korea merupakan dua taman favorit saya. Kenapa? Taman Lansia merupakan taman yang ramah banget untuk sekedar duduk-duduk atau jalan-jalan tanpa alas kaki. Di sana ada lajur jalan yang terdiri dari batu-batu yang di susun. Letaknya juga relatif dekat dari kosan. Plus ditambah sering lihat pemandangan pasangan lansia yang masih rukun, adem ayem lihat mereka gandengan. Di sini juga nggak terlalu banyak pasangan pacaran yang neko-neko. Kalau Taman Korea jadi favorit karena paling bersih dan paling sepi, sepertinya jarang ada orang yang iseng main ke sana (dulu sih, kalau sekarang entah). Di sana kadang saya sama teman-teman saya suka iseng, beli rujak manis lalu makan di Taman Korea. Udah berasa piknik di tengah kota. Asal sampahnya dibuang pada tempanya lah kalau main ke taman :D

Ada hal yang sebenarnya menjadi concern bagi saya, yaitu sikap beberapa oknum yang kadang menyalahgunakan taman-taman tersebut untuk hal yang tidak sewajarnya, seperti pasangan-pasangan muda yang menunjukkan afeksi berlebihan di tempat publik. Sebenarnya sih terserah mereka juga sih. Tetapi di ruang-ruang publik seperti itu biasanya dikunjungi pula oleh anak-anak kecil yang ingin menikmati fasilitas permainan atau hanya sekedar diajak jalan-jalan santai oleh kedua orangtuanya. Pemandangan-pemandangan yang tidak biasa tersebut sesungguhnya memiliki efek yang kurang baik bagi perkembangan anak. Kasian kan generasi anak Indonesia kalau kecilnya saja disuguhi pemandangan pacaran yang nggak-nggak?

Tamannya saja sudah cantik, harus didukung dengan perilaku cantik juga kan? :)


P.S.: Maaf kebanyakan fotonya nyomot dari internet, karena foto-foto ada di hardisk dan hardisk-nya lagi entah ada di mana :(

Suramadu, Jembatan di Selat Madura

Halooo! Kali ini saya sedang ikut 30 Hari Kotaku Bercerita, dan kota yang ingin saya ceritakan adalah Surabaya. Mungkin beberapa orang bertanya-tanya, kenapa sih Surabaya? Bukannya kamu sudah nggak tinggal di Surabaya? Ngapain cerita soal Surabaya?

Lalu kenapa Surabaya? Karena dari sekian kota yang telah saya tinggali, Surabaya lah yang paling punya makna bagi saya dan saya ingin terus mengabadikan Kota Surabaya, meskipun hanya lewat sepuluh tulisan yang dikisahkan di Bulan September ini. Jadi, mari kita kunjungi Surabaya!

***

SURABAYA. Ketika pertama kali disebutkan nama Kota Surabaya, apa sih yang terlintas dipikiran kalian? Kota Pahlawan? Bonek? Suramadu? Arek Suroboyo? Atau Walikota-nya, Ibu Risma? Oke-oke, itu bisa kita bahas di lain post dan lain tema.

Tema kali ini adalah Icon Kota. Apa sih icon Kota Surabaya? Kalau kata saya ada 2, satu sangat sering saya kunjungi (lewati) yaitu Suramadu yang akan saya ceritakan di sini. Satu lagi icon kota yang sama sekali belum pernah saya masuki, selalu hanya numpang lewat di jalan sekitarnya saja, yaitu Tugu Pahlawan. Pengakuan dosa nih, lima tahun pernah tinggal di Surabaya dan belum pernah masuk di Tugu Pahlawan. Nanti kalau ada kesempatan ke sana lagi, Tugu Pahlawan akan jadi agenda wajib untuk saya kunjungi!

source: here

Kembali ke topik. Suramadu. Saya ingat betul jembatan ini selesai dibangun dan mulai dibuka pada tahun 2009, yaitu tahun pertama saya hijrah ke Surabaya. Tepatnya dibuka dan diresmikan pada tanggal 10 Juni 2009. Hari-hari awal dibukanya jembatan ini, fungsinya malah berubah menjadi tempat wisata karena orang berbondong-bondong untuk menjajal jembatan baru yang katanya merupakan jembatan terpanjang di Indonesia. Jadi waktu itu saya mengurungkan niat untuk menjajal jembatan fenomenal tersebut.

Suramadu dibangun di atas Selat Madura, merupakan jembatan sepanjang 5438 meter yang merupakan penghubung antara Kota Surabaya dan Pulau Madura. Jembatan tersebut mulai dibangun di tahun 2003 dan baru selesai di tahun 2009. Jembatan ini dibangun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan ekonomi di Pulau Madura. Keberadaan jembatan ini memang berpengaruh cukup signifikan terhadap waktu tempuh dari Surabaya ke Madura. Kalau dahulu harus menyeberang dengan kapal, sekarang cukup lewat tol jembatan saja. Sepertinya tol jembatan ini juga satu-satunya tol yang punya lajur sepeda motor (kalau saya tidak salah :p).

Saya baru menyeberangi Suramadu sekitar satu tahun kemudian. Kebetulan saya melintas di malam hari dengan mengendarai motor bersama beberapa teman saya. Kadang kalau lagi suntuk atau random saya dan teman-teman saya menyeberang ke Madura hanya untuk ngopi di warung-warung kecil di ujung jembatan. Dahulu lampu di tengah jembatan selalu menyala, sehingga tampak indah dari kejauhan, tetapi akhir-akhir saya di Surabaya ketika lewat jam-jam tertentu lampunya tidak lagi menyala. Mungkin listriknya mahal :p
source: here

Sayangnya, ketika melintas di siang hari bukannya pemandangan indah yang bisa kita lihat, tetapi betapa kotornya lautan di bawah jembatan. Lautnya berwarna cokelat, mirip seperti warna susu cokelat. Jadi saran saya kalau baru pertama kali melintas di Suramadu lebih baik melintaslah di malam hari :p

Itu cerita dari Surabaya, mana cerita dari kota kalian?