Mimpi

8:41 PM


Kamu meninggalkanku bersama mimpi-mimpi yang kita bangun bersama. Mungkin kamu telah lupa, mungkin kamu telah punya mimpi-mimpi baru. Mungkin juga kamu telah mencapai mimpi-mimpi kita, tetapi bukan bersamaku. Aku tidak pernah menyalahkan kepergianmu. Toh, dengan kepergianmu aku menyadari satu hal, bahwa mimpi adalah hal yang begitu hebat. Bahkan mimpi-mimpi yang kita bangun bersama (dulu) itulah yang menghidupiku.

Mungkin salahku, atau mungkin tidak ada yang bisa disalahkan dari keadaan yang kita lalui dulu. Hanya saja waktu itu kita dihadapkan pada sebuah cabang jalan di mana aku dan kamu memilih jalan yang berbeda. Sulit pada awalnya menyusuri jalanan sendirian. Aku sempat terjatuh, terjerembab dan rasanya ingin selalu berbalik arah kepada kamu. Sampai pada satu titik aku sadar, bahwa aku harus memaksa diriku pada satu batas tertentu agar aku tidak lagi menengok ke belakang, meratapi nasib, atau mengharapkan kamu kembali.

Jika biasanya aku selalu berjudi dengan segala kemungkinan bersama kamu, ketika kita berpisah aku harus berjudi sendirian, menanggung kalah sendirian, dan menyoraki kemenangan pun sendirian. Bukanlah hal yang mudah, tapi disitulah aku menemukan diriku yang sesungguhnya. Diri yang mungkin selama bertahun-tahun tidak aku kenali karena tidak lagi ada ke-aku-an tetapi hanya ada kita.

Kini aku tengah memperjuangkan mimpi-mimpi itu. Lalu kamu, apa kabar?

You Might Also Like

0 comment(s)

Silahkan komen :)