Day 2: Alien

10:16 PM

Aku berusaha membuka mataku perlahan. Mataku terasa berat, seperti sebongkah batu bergantungan di kedua kelopak mataku. Silau. Itu kesan pertama yang aku rasakan ketika mataku berhasil terbuka sedikit demi sedikit. Aku mengerjapkan mata dengan lemah. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Hingga pandanganku tidak lagi kabur.
"Di mana aku?"
Itu pertanyaan pertama yang terlintas setelah aku tidak mampu mendefinisikan sekelilingku. Aku terbaring di sebuah ranjang di tengah ruangan serba putih. Ketiga temboknya berwarna putih. Satu tembok tampaknya sebuah kaca besar yang gelap. Di sebelah kaca besar itu terdapat sebuah pintu berwarna putih. Aku berusaha mengingat mengapa aku bisa terdampar di ruangan ini.

Aku perlahan bangkit dari tempat tidurku. Rasa nyeri menyergap tangan kananku ketika aku menggunakannya untuk menopang badanku. Ada beberapa lebam dan goresan rupanya di tubuhku. Mengapa aku bisa sampai di sini?

Aku sedang berada di ruangan kerjaku. Penelitian-penelitian. Crop circle. UFO. Segerombolan alien. Lalu aku tidak tahu lagi.

Aku berusaha keras untuk mengingat, tapi hanya fragmen-fragmen kecil yang muncul, dan itu membuat kepalaku berdenyut. Sakit. Aku ingin mengaduh, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutku. Saat itu, pintu putih itu terbuka. Sebuah makhluk aneh masuk dari sana. Makhluk itu punya badan berwarna hijau, matanya bulat besar biru tidak berkelopak, tingginya sama seperti manusia normal, bajunya terusan berwarna putih dengan bahan kaku seperti jas dokter, dan tidak ada sehelai rambut pun yang tumbuh di badannya. Aku di mana?

Aku menjatuhkan diri ke lantai lalu berlari ke sudut ruangan. Aku berjongkok dan mendekapkan kedua tanganku ke kakiku. Aku tahu sekarang aku di mana. Aku pasti diculik makhluk asing. Aku pasti diculik alien.
"Pergi kamu alien. Apa yang kau inginkan dariku? Pergi. PERGI!"
 ***
Aku sudah tidak tahan lagi. Kondisi Bapak tidak berubah. Ia masih saja menganggap semua orang sebagai alien. Bahkan darah dagingnya sendiri pun ia anggap sebagai alien. Aku tak jadi menghampirinya, aku letakkan nampan berisi makan siangnya di samping tempat tidurnya lalu keluar. Sudah tiga tahun aku menjadi psikiater, berharap Bapak bisa waras. Tetapi aku tetap saja masih dianggap sebagai alien.

You Might Also Like

0 comment(s)

Silahkan komen :)