Balon

10:56 PM

Rumahku di Jogja kan sekarang tinggiii, bisa kali ya ntar dibikin kaya ginii
Ada balon banyak gitu di kamarku uwaaaaa 
Setiap minggu kita selalu meluangkan waktu bersama. Entah dipenghujung minggu atau dihari biasa. Kadang menapaki jalanan dekat rumahku lalu berhenti di warung dekat rumah. Makan, membeli es krim atau sekedar membeli segelas milo hangat di lesehan kecil dekat rumah ketika cuaca sekitar rumahku dingin. Atau menaiki motormu berjalan-jalan ke arah kota. Melihat lampu-lampu jalanan, mengobrol lalu mencari tempat makan seperti pasangan-pasangan muda lainnya.

Jumat malam ini kita memutuskan untuk berjalan-jalan di salah satu kompleks perumahan yang kita pilih secara acak. Memarkir motormu di depan salah satu ruko lalu kita berjalan ke sekitar kompleks perumahan tengah kota yang cukup ramai itu. Jajaran ruko di sana memang disulap sedemikian rupa sehingga menjadi tempat yang asyik untuk sekedar berjalan-jalan. Capek berjalan, kita berhenti di salah satu kedai kopi kecil. Iced coffee dan espresso, sepotong brownies dan sepotong tiramissu menemani obrolan kita hingga pukul 9 malam.

Pukul 9 kamu mengajakku pulang, seperti biasa kamu selalu mengantarku pulang sebelum jam 10 malam. Sudah berjanji dengan ibuku, seperti perjanjian tidak tertulis sejak kamu mulai kerap mengajakku kencan. Iya kencan. Kata-kata yang selalu aku gunakan untuk menggodamu, kamu selalu tertawa mendengar kata kencan. Katamu kencan adalah kata jadul, dan kamu selalu memikirkan kencan adalah sesuatu yang romantis sedangkan kamu adalah orang yang sama sekali tidak mengenal kata romantis.

Kita berjalan pelan menuju ke tempat motormu terparkir. Baru sekitar satu menit berjalan aku melihat anak kecil membawa balon merah keluar dari mini market seberang jalan. Aku mengajakmu ke sana, merengek melihat balon yang dibawa anak kecil itu.
"Aku juga mau balon, adek itu dapat darimana ya, Ndut?" tanyaku sambil mengamati mini market itu.
"Ya mana aku tau, kaya anak kecil aja kamu liat balon masih mupeng," ejekmu sambil melingkarkan lengan di bahuku. 
"Itu, Ndut. Aku baca ada promo beli es krim dapat balon. Ayo beli, Ndut!" kataku sambil melepas tanganmu dari bahuku lalu menarikmu.
Kita berdua menyeberangi jalan itu, aku kemudian bertanya pada mas-mas di kasir.
"Mas, beli es krim itu dapat balon ya?"
"Iya, Mbak. Setiap pembelian satu buah es krim mbak akan mendapat satu balon. Promonya sampai hari ini aja, ini tinggal ada satu balon, Mbak."
Aku langsung mengambil satu buah es krim yang dimaksud lalu memintamut membayarkannya untukku. Lalu mas-mas di kasir memompakan satu buah balon warna biru lalu memberikannya padaku. Kamu tersenyum geli. Katamu ekspresiku lucu, seperti anak kecil yang kagum sama mainan!

Kita lalu menyeberang jalan, melanjutkan perjalanan. Tangan kiriku menenteng es krim dan tangan kananku sesekali menyuapkan es krim. Kita berjalan santai, lima belas menit mungkin. Kita sampai di tempat motormu terparkir. Aku sibuk dengan jaket, memakai helm lalu siap duduk di atas motor sampai akhirnya kamu mengatakan sesuatu.
"Cil, adek itu daritadi ngeliatin balon kamu lho."
Katamu sambil menunjuk ke arah anak kecil dan mamanya yang berada di ruko depan motormu yang merupakan sebuah butik. Anak itu melihat dari balik kaca transparan butik yang nyaris tutup itu, tatapannya tak lepas dari balon warna biru yang aku pegang.
"Iya, Ndut. Pengen balonku kayaknya."
"Kasihkan aja gih. Lagian aku kan cuma bawa motor, nanti terbang malahan balonnya."
"Iya deh, Ndut. Tunggu anaknya keluar ya, kayaknya dia anak pemilik butik deh. Itu kan butiknya udah mau tutup. Kali aja anaknya keluar."
Kita menunggu di atas motor, lima menit kemudian seorang ibu muda keluar sambil menggandeng anak kecil itu. Aku lalu mendekati anak kecil yang masih sesekali melirik ke arah balon biruku. Aku lalu membungkuk dan segera mengulurkan balon itu ke si anak kecil.
"Nih kakak kasih, tadi kakak beli es krim di toko. Katanya kalau beli es krim dapat balon. Kakak udah nggak mau awalnya, udah gedhe ngapain dikasih balon. Tapi yang jual ngotot ngasih kakak."
Kamu terkekeh geli mendengar ucapanku yang bohong banget dan tertawa geli melihat ekspresi lucuku yang dibuat-buat (aku baru tau saat kamu tak berhenti tertawa bahkan sampai kita sudah naik motor menuju rumah). Anak kecil itu juga tertawa. Ibunya yang melihat kita tersenyum lalu menyuruh anak kecil itu berterima kasih. Lalu mereka berdua berlalu.

Kita pun pulang. Ada cerita baru lagi dari lembaran kehidupan kita..

***

Based on true story, dengan penyamaran dan tambahan di sana dan sini.

You Might Also Like

0 comment(s)

Silahkan komen :)