Runaway: Kupang

5:06 PM

photo by google.com

Halo! Seperti janji tadi, ada cerita dari perjalanan ke Kupang. Kupang adalah Ibu Kota Nusa Tenggara Timur, kota ini berada di Pulau Timor yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste. Perjalanan ke Kota Kupang dari Surabaya dapat ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam dari Surabaya dengan menggunakan pesawat.

Perjalanan kali ini adalah perjalanan dinas. Kenapa perjalanan dinas? Karena perjalanan ini adalah murni proyek dari tempat magang bersama dengan 4 orang yang lain. Kami berangkat dengan pesawat sekitar pukul 19.30 karena pesawat sempat delay. Di Bandara Juanda kami sempat terhalang karena koper kami overload. Baru kami tahu bahwa batas maksimum satu buah koper adalah 32 kg di sana. Berhubung 2 dari tiga koper kami beratnya lebih dari 32 kg maka kami harus membongkar koper di sana.

Pemandangan pantai di Kupang. Sebagian perahunya adalah perahu Sail Komodo. Photo by instagram @prdnk

Kami tiba di Bandara El Tari pada pukul 22.35. Karena penerbangan malam, pemandangan yang dapat dilihat sangat minim sekali. Setibanya di bandara pun kami langsung ke hotel lalu makan malam. Hari kedua kami disibukkan dengan proyek kami sehingga tidak ada acara jalan-jalan, hal yang berkesan adalah perjalanan dari hotel menuju ke tempat dilaksanakannya proyek, dari jalan utama kota Kupang, kami dapat melihat laut dari kejauhan. Di sana terdapat sebuah taman yang namanya unik, Taman Nostalgia. Hari ketiga atau hari terakhir di sana kami hanya sempat jalan-jalan sejenak karena pukul 09.00 kami sudah harus cek ini untuk penerbangan jam 11.00. Jalan-jalan singkat di pesisir pantai Kupang sudah membuat terperangah, karena keindahan pantai serta tenun ikatnya meski hanya sempat membeli 3 cinderamata kecil karena terbatasnya waktu.

Pemandangan Kota Kupang. Photo by instagram @prdnk

Dunia pendidikan di sana juga sedikit membuat kagum. Tidak menyangka bahwa di daerah timur Indonesia melayani program Kelas Akselerasi. Jauhnya letak Kota Kupang dengan Ibu Kota tidak membuat kemajuan pendidikan di sana terhambat. Di salah satu sekolah bahkan sangat menyiapkan siswanya bauk secara akademis maupun sopan santun meski di sisi lain, sekolah yang kualitasnya bagus dan diakui oleh masyarakat itu bangunannya jauh dari kata layak. Terdapat perbedaan signifikan antara siswa kelas 1 SMA dan 2 SMA di sana. Siswa kelas 1 mungkin masih sulit dikendalikan, tetapi siswa kelas 2 memiliki mental yang bisa dibilang matang sebagai siswa Akselerasi SMA.

Mungkin dana pendidikan di Indonesia juga harus lebih merata, di pulau-pulau timur atau pulau-pulau yang jauh dari ibu kota negara sangat perlu diperhatikan. Mungkin di sana ada potensi-potensi bagus bagi pembangunan Indonesia dan ada kader-kader pemimpin yang bisa membawa kemajuan bagi Indonesia. Kalau dipikir-pikir, bisa jadi siswa di sana lebih matang dibandingkan siswa di Pulau Jawa.

Sekian dulu salam dari Kupang.. :)

F.

You Might Also Like

0 comment(s)

Silahkan komen :)