Day 1: Tas

2:28 PM

Pagi itu aku sedang menikmati secangkir cappuccino hangat di kedai kopi Bandara ketika seorang laki-laki tiba-tiba menghampiriku.
“Mau naik atau baru turun?” tanya laki-laki tersebut sambil mengambil tempat duduk di hadapanku.
“Hah?” tanyaku kaget.
Laki-laki itu mengarahkan pandangan dan menunjuk ke arah backpack yang aku letakkan di samping kursiku.
“Turun,” jawabku.
“Sudah saya tebak. Boleh saya duduk di sini?” tanya laki-laki itu lagi sambil tersenyum. Ia sudah duduk di hadapanku sejak beberapa detik yang lalu, tapi baru bertanya, “Aneh,” batinku.
“Sudah duduk baru bertanya. Interesting,” jawabku sambil balik melempar senyum.
Aku mengamati laki-laki itu, usianya mungkin sama denganku. Ia mengenakan kaus berkerah berwarnah maroon, celana jeans, sepatu sport, dan membawa sweater abu-abu. Tas yang ia pakai adalah daypack. Aku bertaruh dia hanya membawa segelintir pakaian dan sebuah laptop. Tampaknya ia baru pulang dari perjalanan dinas. Di balik wajahnya yang ramah ia tampak agak letih, mungkin dia baru sampai kemarin pagi, lalu pagi ini harus kembali ke Jakarta. Orang yang efektif dan efisien.
“Tampaknya Anda sedang menilai saya,” kata-kata laki-laki itu membuatku agak kaget.
Impressive. Begitu juga dengan Anda,” aku membalikkan kata-katanya. Sedari aku mengamatinya tadi aku        juga tahu kalau dia mengamatiku.
“Wow, tidak salah saya memilih duduk di sini. Selain saya tidak suka duduk sendirian, saya selalu terkesan dengan orang-orang yang masih sempat meninggalkan aktivitasnya untuk kembali ke alam,” katanya lagi.
“Saya tidak pernah habis pikir dengan orang yang terlalu menyibukkan diri seperti Anda. Bumi ini terlalu luas hanya untuk dilewatkan di sebuah kubikel di gedung bertingkat atau hanya bepergian karena tuntutan pekerjaan.”
“Tampaknya Anda benar-benar pengamat yang jeli. Ya, saya menghabiskan lebih banyak waktu di kubikel kecil dan beberapa kali perjalanan dinas setiap bulan,” jelasnya.
Internal auditor?” tanyaku.
“Ya. Cukup tentang saya sepertinya. Sepertinya cerita Anda lebih menarik,” katanya sambil mengedikkan kening.
Aku tersenyum, lalu menyecap kopiku yang mulai dingin.
“Dari backpack yang anda bawa dan kulit anda yang agak terbakar matahari, saya tahu Anda baru saja turun dari gunung. Lalu dari tas kamera Anda yang cukup besar, paling tidak ada satu kamera dan dua lensa di dalamnya, saya bisa saja mengira Anda fotografer atau hobi fotografi. Dari sepatu Anda, tampaknya Anda cukup sering melakukan perjalanan karena sepatu Anda keluaran tahun lalu tetapi kondisinya sudah yaaa, begitulah,” katanya sambil tertawa, kami tertawa bersama, tawa yang menyenangkan.
Good. Lalu kira-kira apa pekerjaan saya?” tanyaku menantang.
“Entahlah, sepertinya Anda tidak jauh beda dengan saya. Bekerja di kubikel kecil, hanya saja Anda tahu bagaimana menikmati hari libur. Kalau tidak bagaimana Anda bisa membiayai perjalanan Anda,” katanya lagi.
“Bisa betul bisa tidak. Saya kadang bekerja di kubikel kecil. Tetapi intensitasnya bisa dihitung dengan jari setiap bulannya. Kadang bahkan saya tidak menempati kubikel tersebut. Sisanya saya habiskan untuk menjalankan hobi saya,” kataku.
“Pekerjaan macam apa itu?” tanya laki-laki itu.
“Anda bisa menyebut saya traveler atau backpacker.”
Laki-laki itu tampak bingung mendengar jawabanku. Aku menikmati kebingungannya. Sekali lagi aku mengamatinya, laki-laki itu punya wajah yang tampan, bersih, dan wangi. Tingginya kira-kira 15 cm lebih tinggi dari aku, posturnya tegap, dan rajin berolahraga.
“Saya bekerja sebagai reporter untuk majalah travel. Selain itu saya juga freelance fotografer. Jadi ya hari-hari saya, saya habiskan dengan menjalani hobi saya, traveling dan fotografi. Hidup saya ya bersama kedua tas ini,” kataku sambil menepuk backpack dan camera bag.
                “Okay. Sejujurnya saya iri dengan Anda. Sampai saat ini masih banyak tempat yang ingin saya kunjungi. Saya juga punya cukup uang untuk menuju ke sana, tapi bahkan saya tidak bisa meluangkan waktu untuk pergi ke tempat-tempat itu. Sedangkan Anda, punya kesempatan ke banyak tempat dan masih digaji pula,” candanya.
                “Sekali-sekali ikutlah dengan saya, akan saya tunjukkan betapa indahnya Bumi,” kataku tiba-tiba. Aku tidak tahu dari mana kata-kata itu muncul. Sebelumnya aku bahkan tidak pernah mengatakan hal itu kepada siapapun, apalagi kepada orang asing.
                “Baiklah,” katanya dengan wajah ceria.
“Tapi tinggalkan tas hitam membosankan itu,” kataku sambil menunjuk tasnya lalu menambahkan, “Dan isinya.”
Kami tertawa. Kami pun bertukar e-mail sebelum aku pergi.

 -F-
 

You Might Also Like

0 comment(s)

Silahkan komen :)